Harga Minyak Dunia Bisa Tembus $126/Barel Akibat Selat Hormuz Ditutup
Penutupan Selat Hormuz sejak eskalasi konflik AS-Iran pada 2026 telah mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent sempat menembus US$126 per barel — tertinggi dalam empat tahun terakhir. Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, dampaknya langsung dirasakan mulai dari ancaman kenaikan BBM, tekanan APBN, hingga risiko inflasi yang mengintai.
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Melejit: Apa yang Perlu Anda Ketahui?
Jakarta, 11 Juni 2026 — Dunia kini menghadapi salah satu guncangan energi paling serius dalam satu dekade terakhir. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah memukul pasar minyak global dengan keras, memicu lonjakan harga yang berdampak luas — dari harga bensin di Jakarta hingga bursa komoditas di London dan New York.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Lebih dari 20% pasokan minyak dunia serta hampir sepertiga perdagangan gas alam cair (LNG) global melintasi selat ini setiap hari.
Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum dikirim ke pasar internasional.
Dengan kata lain, Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa — ia adalah nadi utama pasokan energi dunia. Ketika selat ini terganggu, seluruh perekonomian global ikut terguncang.
Harga Minyak: Dari $70 bisa Menembus $126 per Barel lagi!
Dampak penutupan ini langsung terasa di pasar komoditas global. Harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan global sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir di angka US$126,41 per barel.
Laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) Juni 2026 yang diterbitkan oleh US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga minyak mentah Brent diperkirakan rata-rata mencapai 95 dollar AS per barel pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 69 dollar AS per barel pada 2025.
Sebagai perbandingan, asumsi harga minyak dalam APBN Indonesia 2026 hanya ditetapkan sebesar US$70 per barel — artinya harga aktual saat ini sudah melampaui proyeksi pemerintah lebih dari dua kali lipat.
Proyeksi ke Depan: Tiga Skenario yang Mungkin Terjadi
CEO Rosneft Igor Sechin menegaskan bahwa faktor utama yang akan menentukan tren pasar dalam jangka menengah adalah situasi terkini di Selat Hormuz. Menurutnya, jika pembatasan yang berkaitan dengan konflik di Selat Hormuz dicabut sekarang, maka pada akhir tahun harga rata-rata dapat mencapai US$95–96 per barel.
EIA dalam laporannya mengasumsikan Selat Hormuz akan tetap tertutup secara efektif dalam jangka pendek. Pengiriman minyak melalui jalur tersebut diperkirakan mulai pulih pada kuartal III 2026, tetapi membutuhkan waktu hingga awal 2027 untuk kembali ke tingkat sebelum konflik.
Berikut tiga skenario yang banyak dibahas para ekonom dan analis energi global:
Skenario 1 — Konflik Mereda Cepat: Harga minyak stabil di kisaran US$95–100 per barel. Dampak ke ekonomi masih dapat dikelola.
Skenario 2 — Konflik Berlanjut Hingga Akhir 2026: Beberapa analis memproyeksikan harga dapat menembus US$100 hingga US$150 per barel jika konflik berlanjut.
Skenario 3 — Eskalasi Penuh Tanpa Resolusi: Para ekonom mulai menyalakan alarm peringatan — jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut hingga paruh kedua 2026, resesi global bukan lagi sekadar prediksi, melainkan keniscayaan.
Dampak Nyata bagi Indonesia
Indonesia tidak bisa lepas dari dampak krisis ini. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memperkirakan dalam skenario terburuk harga minyak bisa menembus 100 dollar AS per barel jika konflik terus meluas. Indonesia merupakan negara net importir minyak dengan kebutuhan impor BBM sekitar 1,2 juta barel per hari, sehingga harga minyak yang tinggi akan menambah beban APBN, terutama untuk subsidi energi.
Angkanya pun tidak kecil. Simulasi yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 dollar AS per barel di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban belanja negara sekitar 10,3 triliun rupiah. Dalam skenario harga minyak menembus 100–120 dollar AS per barel, beban tambahan bisa mencapai 515 triliun rupiah.
Selain tekanan fiskal, ketidakpastian geopolitik cenderung membuat investor beralih ke aset aman (safe haven), yang berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sudah berada di level Rp18.000.
Di pasar Asia, dampaknya sudah mulai terasa nyata — stok sarung tangan medis, mi instan, hingga kosmetik dilaporkan menipis akibat tingginya biaya produksi dan gangguan rantai pasok.
Dilema Pemerintah: Naikkan BBM atau Biarkan APBN Jebol?
Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan yang sama-sama pahit: menaikkan harga BBM bersubsidi di tingkat konsumen dan memicu inflasi, atau mempertahankan harga dengan mengorbankan ruang fiskal untuk program-program prioritas lain seperti Makan Bergizi Gratis atau pembangunan infrastruktur strategis guna menutup lubang defisit.
Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan jenis di atasnya, harga kemungkinan akan menyesuaikan mekanisme pasar. Namun untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan solar, pemerintah menghadapi dilema besar di tengah tekanan fiskal.
Penutup: Krisis yang Menguji Ketahanan Energi Global
Penutupan Selat Hormuz bukan hanya soal konflik militer antara AS dan Iran. Ini adalah ujian nyata bagi ketahanan energi seluruh dunia — termasuk Indonesia. Krisis Selat Hormuz 2026 bukan peristiwa anomali, melainkan pengingat keras bahwa ketergantungan pada satu jalur pasokan energi adalah kerentanan struktural yang harus segera diatasi.
Selama resolusi diplomatik belum tercapai, pasar energi global akan terus bergejolak — dan harga yang kita bayar di SPBU bisa menjadi cermin langsung dari ketegangan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya di Teluk Persia.
Langkah berikutnya
Mau diskusi market bareng?
Klik tombol di bawah untuk daftar jadi member VIP kami sekarang.